Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah gangguan saraf yang termasuk dalam penyakit akibat kerja, yang terjadi akibat penekanan saraf median di terowongan karpal pada pergelangan tangan. Kondisi ini banyak ditemukan pada pekerja yang melakukan aktivitas tangan secara berulang, mempertahankan posisi kerja statis dalam waktu lama, atau menggunakan peralatan kerja yang tidak ergonomis. Tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan gangguan aliran saraf dan pembuluh darah, sehingga fungsi tangan tidak bekerja secara optimal.
Faktor risiko terjadinya Carpal Tunnel Syndrome di tempat kerja antara lain gerakan berulang pada tangan dan jari, posisi pergelangan yang terlalu menekuk atau terputar, tekanan langsung pada pergelangan tangan, penggunaan alat bergetar, serta kurangnya waktu istirahat. Beban kerja yang tinggi tanpa disertai pengaturan kerja yang baik juga mempercepat munculnya keluhan, terutama pada pekerjaan administratif, operator mesin, dan pekerja manual yang mengandalkan kekuatan tangan.
Gejala CTS umumnya berkembang secara bertahap, dimulai dari rasa kesemutan, kebas, dan nyeri pada ibu jari, jari telunjuk, serta jari tengah. Keluhan dapat menjalar hingga lengan dan bahu, disertai penurunan kekuatan genggaman sehingga penderita sering menjatuhkan benda. Pada tahap lanjut, nyeri dapat muncul secara terus-menerus, terutama pada malam hari, dan berisiko menimbulkan kerusakan saraf permanen apabila tidak segera ditangani.
Dampak Carpal Tunnel Syndrome tidak hanya dirasakan oleh pekerja secara individu, tetapi juga berpengaruh pada produktivitas dan keselamatan kerja. Pekerja yang mengalami nyeri dan kelemahan tangan akan kesulitan melakukan tugas secara optimal, meningkatkan risiko kesalahan kerja dan kecelakaan. Selain itu, absensi dan biaya pengobatan dapat meningkat apabila gangguan ini tidak dicegah sejak dini.
Perhatian terhadap kesehatan pergelangan tangan merupakan investasi jangka panjang bagi pekerja dan perusahaan guna menjaga kinerja, keselamatan, dan produktivitas kerja.